Kunci Pertanyaannya: Pintar Mana, Habibie atau Mike Tyson?


Tak Ada Anak Pandai dan Bodoh, Semua Genius!

SAAT ini anak usia sekolah baru menerima rapor. Macam-macam reaksi anak maupun orangtua saat melihat hasil akademis itu. Baik yang anaknya di tingkat sekolah dasar, menengah maupun atas, bahkan yang masih di PAUD dan TK.

Dari sekian banyak reaksi para orangtua tersebut, kira-kira ada berapa banyak yang melihat ranking daripada melihat hasil kemampuan anaknya? Berapa yang bangga atas capaian peringkat kelas dibandingkan bangga dengan hasil terbaik yang dicapai sang anak (serendah apapun itu)? Sadarkah orangtua bahwa kita terlalu sering menuntut apa yang kita mau dan membuat kita bangga, sementara mengabaikan kepentingan anak dan apa yang membuat dia bangga.

Kalau boleh orangtua sedikit merenung, apakah ada hubungan lurus hasil akademis dengan keberhasilan hidupnya nanti? Berdasarkan hasil penelitian, jawabannya TIDAK. Apalagi jika dihubungkan dengan IQ atau kecerdasan intelektual. Ternyata angka IQ yang merupakan nilai statistik gabungan dari beberapa aspek intelektual itu bukan merupakan faktor penentu keberhasilan akademis, apalagi penentu kesuksesan dalam kehidupan! Berdasarkan penelitian, IQ hanya berkontribusi antara 5 persen sampai 20 persen saja terhadap keberhasilan seseorang.

Dan yang lebih parah lagi, banyak sekali yang tidak mengerti tentang hal ini, sehingga salah dalam penggunaannya. Saya ulangi, nilai tes IQ itu merupakan skala statistik gabungan dari kemampuan beberapa aspek intelektual, jadi angka IQ tidak tepat digunakan untuk membandingkan anak yang satu dengan lainnya. Anak yang memiliki nilai IQ 115 misalnya, belum tentu lebih baik nilai akademisnya dengan temannya yang nilai IQ-nya 109.

MENGAPA? Dalam kurikulum pendidikan di Indonesia, walaupun semakin disempurnakan, ternyata masih mengagungkan kecerdasan logika matematika dan bahasa. Sehingga ketika anak masuk sekolah tingkat dasar dan belum bisa baca, tulis dan hitung, maka dipastikan nilai akademisnya akan rendah. Padahal setiap anak dilahirkan ke dunia dengan kapasitas dasar IQ yang sama, yakni 100 miliar neuron atau sel otak aktif yang akan membuat sambungan sinaptik setiap kali kita berpikir.

So, setiap anak lahir genius! Lalu mengapa ada sebutan pintar dan bodoh? Mari kita pahami dahulu tentang kecerdasan intelektual ini. Allah awalnya memberikan kita modal kecerdasan yang sama. Namun kecerdasan intelektual ini terdiri dari 7 lobus atau saya gambarkan sebagai 7 mesin otak yang masing-masing memiliki kemampuan tersendiri. Yaitu:
  1. Otak logika matematika, yaitu kemampuan berpikir logis dan bermain angka    dan hitung-hitungan.
  2. Otak bahasa, yaitu kemampuan dalam berbahasa dan komunikasi verbal.
  3. Otak spasial, yaitu kemampuan ruang, menghitung perkiraan, membayangkan perbandingan.
  4. Otak kinetis atau otot, kemampuan dalam mengembangkan otot tubuh dan olahraga.
  5. Otak seni, yaitu kemampuan dalam bidang seni.
  6. Otak pengelolaan diri sendiri.
  7. Otak pengelolaan orang lain.
Allah mahaadil dan mahapengatur, sehingga setiap manusia itu tidak ada yang hebat pada semua mesin otaknya. Namun selalu dan pasti ada salah satu atau dua yang merupakan mesin geniusnya. Jadi alangkah tidak adilnya jika kurikulum pendidikan kita cuma menggunakan 2 mesin otak saja, yaitu logika matematika dan bahasa. Berarti anak-anak kita yang kebetulan kecerdasannya pada “mesin otak” yang lain, pasti tidak akan disebut pintar di sekolah.

Mari saya beri contoh. Habibie, jika saya menyebut nama beliau pasti semua setuju dia disebut orang yang pintar. Tapi kalau saya tanya, pintar mana Habibie dengan Mike Tyson? Biasanya peserta seminar saya dengan cepat menjawab: pasti lebih pintar Habibie.

Lalu saya tanya lagi, kalau begitu jika Habibie saya tandingkan di atas ring dengan Tyson, yang menang siapa? Wah, semua tertawa dan menjawab: Tyson pasti menang. Kesimpulannya, mengapa tidak konsisten? Tadi di awal menyebut lebih pintar Habibie, kalau begitu seharusnya saat bertinju dia pun pasti menang. Lantas apa yang salah? Inilah yang disebut salah kaprah Indonesia Raya, hahaha.

Kita sering menyebut pintar, padahal tidak tepat maknanya. Mari kita telaah bersama. Habibie memiliki otak kecerdasan logika matematika yang luar biasa, namun tidak luar biasa pada otak kinetisnya. Sedangkan Mike Tyson dianugerahi Allah otak kinetis yang luar biasa dibandingkan dengan mesin otak lainnya. Pada setiap mesin otak yang terbaik yang kita milikilah yang mestinya dikembangkan.

Sehingga titik sambungan sinaptiknya akan optimal dan kita akan sangat pintar pada bidang tersebut. Jika kebetulan anak kita kurang pada otak logika matematika, walaupun didorong dengan les dan bimbingan, belajar berjam-jam tiap hari, bahkan sampai menangis karena dipaksa, hasilnya tidak akan pernah maksimal.

Jadi marilah kita ubah sekarang. Jangan memaksakan pengembangan anak jika kita belum memahami dengan benar kapasitas otak mana yang terbaik dari anak kita. “Mesin otak” mana yang kira-kira dimiliki oleh anak kita. Sehingga bisa kita pilihkan jenis pendidikan yang sesuai dengan kemampuannya. Mulai sekarang jangan menyebut kepintaran anak jika tidak jelas kepintaran apa yang dimaksud. Karena Habibie pintar di bidangnya, Mike Tyson pun sangat pintar di bidangnya.

Coba ingat-ingat, apakah semua teman kita sekolah dulu, terutama yang kerap jadi juara kelas, semua berhasil kini? Belum tentu. Atau perhatikan rekan kerja di kantor, banyak yang berhasil, kariernya cepat naik, bukan karena dia sangat menguasai tugasnya. Namun karena pintar bicara dan mengelola orang lain, dan kalau dilihat nilai akademisnya biasanya biasa-biasa saja, bukan? Jadi kalau menyebut pintar harus lengkap pintar dalam hal apa.

Untuk tambahan, jangan pelit memuji anak bahwa kita bangga, kita senang. Ini memotivasi mereka, meski itu hal kecil sekalipun. Contohnya, memuji ketika dia tak tumpah saat makan misalnya. Lebih seringlah memuji anak, walau hanya dengan kata-kata kita bangga, pada setiap kemampuan yang dicapainya, bukan pada ranking-nya! Pujian tulus dan kebanggaan ini merupakan awal pembentukan konsep diri positif pada anak yang akan menuju pada pembentukan citra dirinya.

Sehingga menimbulkan rasa percaya diri nantinya. Ini merupakan dasar pembentukan EQ atau kecerdasan emosional yang berkontribusi sampai dengan 80 persen pada keberhasilan (akan saya bahas pada tulisan selanjutnya). Ingat, tiap anak tidak bisa dan tidak boleh dibandingkan! Bahkan dengan saudara sendiri ataupun kembarannya sekalipun. Tiap anak punya keunikan sendiri dan pasti ada kegeniusan pada dirinya.

Tidak perlu menjadi psikolog untuk memahami kecerdasan terkuat anak, setiap orangtua terutama ibu adalah psikolog amatir, asalkan cukup perhatian dan mengikuti setiap proses tumbuh kembang anak. Jadi tinggalkan ranking, banggalah pada setiap hasil kemampuan anak yang dicapai dengan upaya maksimalnya.

Banggalah dengan usaha anak mencapainya karena angka di rapor dan ijazah bukanlah penentu keberhasilan hidupnya! Mari kenali, deteksi dan kembangkan setiap potensi anak kita. Bukan apa yang kita mau, tapi yang penting seberapa mampu kita membuat anak kita termotivasi dan maju dalam hal yang terbaik versi mereka. Bagaimana menurut Anda? (***/penulis adalah pemerhati anak, seorang psikolog dari Jasa Psikologi Clarinta Balikpapan/che/k7)

Post a Comment